Minggu, 16 Oktober 2016

Bagian tiga: "SMP Kirizawa"


                                                    " Smp Kirizawa "

“hah..huh..hah…huh” sekali lagi kami harus berlari. Setelah lepas dari daerah kekuasaan Sang Inugami, kami berdua berlari lagi menuju kelas. Untung saja berkat berhenti sebentar di pos penjagaan tadi, baju seragam kami yang tadinya sangat basah, menjadi agak kering. Tapi, satu hal yang yang pastinya nanti akan menjadi sebuah masalah. Ya, benar, bau badan kami yang masam ini tidak akan mudah untuk hilang. Beberapa kali kucoba untuk mencium bau badan ku sendiri, beberapa kali juga aku mau pingsan. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa Shoyou memikirkan hal yang sama ya?
Tampaknya dia tidak memikirkan hal yang serupa denganku. Sedari tadi kulihat, dia hanya fokus berlari untuk sampai ke kelas. “Himada” tiba-tiba dia memanggilku. “Aku tau kau sedang memikirkan masalah bau badan ini kan? Tenang saja, tidak usah kau pikirkan. Aku ada solusinya.” Kata-kata yang dikeluarkannya dengan ekspresi wajah yang sok keren itu membuatku tenang. “Tapia apa…” belum sempat aku bertanya, dia langsung memotongnya. “Su….suhdahhh lahh, hah…hah..ha.. nantih ajaah dii kehlass yah” ekspresinya yang sok cool tadi, mendadak berubah menjadi ekspresi yang seharusnya. “Hei Shoyou” panggilku dingin. “Yah?” jawabnya tersengal-sengal.
“Kalau capek ngomong aja, gak usah pakai akting sok keren segala, hahaha” ejekku. Nasib baik sekali lagi menimpa kami. Sesampainya di kelas, hal kedua yang kami takuti tidak terjadi. Guru matematika belum hadir di kelas, seharusnya dari 10 menit yang lalu, kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. Tapi syukurlah, kami tak dapat hukuman dan tak perlu berlari lagi ke ruang BK. Kami langsung menuju kursi lalu duduk. Hidungku sudah berontak dari tadi karena bau ini. Sengaja aku tak bertanya, karena sebelum kutanya, dia sudah mengaduk isi tasnya terlebih dahulu mencari sesuatu. Benda pertama yang keluar dari tas nya adalah buku, diikuti oleh alat tulis lainnya. Kuperhatikan lamat-lamat, menanti barang yang sudah kutunggu-tunggu dari tadi. Benda kedua yang dikeluarkannya adalah sisir yang berbentuk seperti pisau lipat yang berkilau dengan warna silvernya.
Tebakanku salah, kukira dia akan mengeluarkan benda itu. Dia melanjutkan membedah tasnya. “Kali ini pasti parfumnya”kataku dalam hati. Tebakanku salah lagi, kali ini dia mengeluarkan pomadenya yang kelihatannya cukup mahal. Sekali lagi dia menggeledah isi tasnya itu. Aku memperhatikannya dengan seksama, berharap benda yang dinanti-nantikan sejak tadi keluar dari tas itu. Hidung ini sudah dari tadi tidak tahan membendung bau ini. Tiba-tiba tangannya terhenti pada satu titik. “Ini dia”gumamku senang. “Nih, tadaaa” ucapnya. Tergambar ekspresi seperti seorang bajak laut yang baru saja menemukan peti harta karun di wajahnya. Mataku melotot, menatap tidak percaya. Apa yang ada, tidak seperti  apa yang kuduga. “Pakai saja sebanyak yang kau mau hihi” katanya menawarkan.
“Shoyou” aku memanggil pelan. “Tidak usah sungkan-sungkan Shoujirou, pakai saja semamumu” “Ini kan kospray, pelicin baju yang mau disetrika, kenapa kau membawanya ke sekolah? Terus mana solusi yang kau janjikan itu?” teriakku kesal. “Ini solusinya” jawabnya santai sambil menyemprot pelicin itu ke baju seragamnya. “Ini mana bisa disebut sebagai solusi, yang ada malah baju kita tambah bau dibuatnya” “Kau salah Soujirou. Pelicin ini mengandung senyawa bla…bla..bla..bla..” dia menjelaskannya secara detail, apa saja yang terkandung didalamnya. “Dasar anak pintar” kataku dalam hati. Pusing aku mendengarnya. Lima menit berlalu, ceramah panjangnya itu belum juga selesai. Entah apa yang disebutnya. Eter? Bukan, ester? Itulah yang disebutnya. Shoyou adalah anak yang jenius. Selalu saja menjadi yang terbaik di kelas saat kami berada di sekolah dasar. Sedangkan aku, selalu saja menjadi nomor dua atau tiga. Teman-teman banyak yang bertanya kepadanya, mengajaknya belajar bersama, dan ada juga yang mau membayarnya untuk menjadi guru privat. Tapi, untuk yang menjadi guru privat, dia menolaknya, katanya takut salah mengajari nantinya.
Aku tidak tahu apa yang dimakannya di rumah, sampai-sampai bisa punya otak seperti itu. Itu kalau dilihat dari sisi akademik. Kalau dilihat dari sisi pelajaran yang menggunakan fisik, seperti pelajaran olahraga, akulah yang menang. Aku suka sekali berolahraga. Hampir semua jenis olahraga kukuasai. Kecuali satu, permainan baseball. Sangat susah untuk mengarahkan pemukul untuk bisa pas mengenai bolanya. Delapan menit berlalu. Dia masih saja sibuk menjelaskan komponen-komponen penyusun pelicin itu. Aku bosan mendengarnya, dan tak ada pilihan lain. Langsung saja kurampas pelicin itu dan menyemprotkannya ke baju. “Jadi intinya adalah, selain bisa digunakan untuk melincinkan baju yang mau di setrika, kospray juga bisa dipakai sebagai parfum” tambanya. “Iya-iya, aku mengerti” jawabku malas.
“Selamat pagi anak-anak. Maaf ya bapak terlambat, ada sedikit urusan tadi.” Seseorang bertubuh tinggi dan berambut ikal itu tiba-tiba masuk ke kelas, membuat semua perhatian tertuju padanya. “Bagaimana kabar kalian semua hari ini?” tanyanya lembut sambil memperbaiki rambutnya yang agak berantakan itu. “Baik pak” semua menjawab serentak. “Baguslah kalau begitu. Langsung kita mulai saja, buka buku kalian halaman 46. Hari ini kita akan belajar tentang KPK dan FPB.” Semuanya segera membuka buku pelajaran masing-masing dan langsung memperhatikan ke apa yang pak guru jelaskan. Suasana kelas yang lengang, sembari diembus angin AC yang menyejukkan, membuat kegiatan belajar mengajar semakin nyaman. Semuanya bersemangat untuk belajar, kecuali mereka bertiga yang duduk di pojok kanan bagian belakang. Dari tadi kulihat, tidak ada satupun dari mereka yang memperhatikan, malahan asik sendiri.
Dua diantaranya sedang bermain kartu dan seorangnya lagi asik bermain dengan gadgetnya. “Ehem, yang di belakang sana mau belajar atau tidak? Kalau mau, tolong jangan berisik” pak guru menegur. Ternyata pak guru juga memperhatikan mereka dari tadi. Gadget dan kartu tadi dengan cepatnya mereka simpan ke dalam laci. “Ya pak” mereka menjawab. Pak guru kembali menjelaskan, dan kulihat mereka sudah kembali bermain gadget dan kartu lagi. Apa peduliku, biarlah mereka, mereka sendiri yang nantinya akan merasakan akibatnya. Aku berpaling, dan memperhatikan pelajaran lagi. Papan tulis itu lama-kelamaan terselimuti oleh ribuan angka. Karena sibuk memperhatikan tiga orang berandal di belakang, aku jadi tidak mengerti apa yang dijelaskan pak guru di depan. Tetapi, yang di sebelahku sudah seperti patung saja. Matanya menatap lurus ke depan, badanya tegap dan kaku. Itulah dia, mode konsentrasi yang luar biasa yang biasa Shoyou keluarkan saat serius. “Kalau begini terus, aku pasti akan kalah lagi dari Shoyou nantinya. Lebih baik aku serius juga” kataku dalam hati.
Tiga puluh menit berlalu, tak terasa lima belas menit lagi istirahat. Pak guru sudah menulis beberapa soal di papan tulis. Lima soal tepatnya. “Ada yang mau mengerjakan soal ke depan?” pak guru bertanya. “Dan juga, siapa yang bisa menjawab soal nomor lima, akan bapak kasih nilai tambahan, karena soal nomor lima lebih sulit dari yang lain” lanjutnya. “Saya nomor 3 pak… saya nomor 2 pak… saya nomor 4 pak… nomor 1 pak” semuanya berteriak untuk dapat mengerjakan soal di depan. Tapi, tak ada satupun yang mau mengerjakan soal nomor lima. “Saya nomor lima pak” Shoyou mengangkat tangan. Semua mata tertuju padanya. Karena aku tak mau kalah darinya, aku juga mau ke depan ngerjain soal. Biarlah gak mendapat nilai tambahan, yang penting aku maju dan mengimbangi Shoyou. “Saya nomor 3 pak” aku pun mengangkat tangan menunjuk nomor 3 untuk aku kerjakan, karena hanya itu yang aku mengerti.
“Baik. Nomor 1. Shizuya, nomor 2. Kurobane, nomor 3. Himada, nomor 4. Tora, dan nomor 5. Shoyou. Silakan maju ke depan” pak guru memanggil. Kami berlima serentak maju dan mengerjakan soal masing-masing. Aku melirik sedikit ke arah Shoyou, dia sudah separuh jalan ternyata. Cepat sekali, “Yah, aku pasti akan kalah lagi di SMP ini” kataku dalam hati. “Whoa, kau benar Shoyou, jawabanmu tepat sekali. Selamat, kau mendapat poin tambahan” pak guru memberitahu. “Terima kasih pak” jawabnya. Kami berlima duduk kembali di kursi masing-masing. Sekilas aku melihat, tiga orang berandalan tadi melihat ke arah Shoyou sambil menunjuknya. Mereka sepertinya sedang mebicarakan kepintarannya atau sedang merencanakan sesuatu? Biarkan saja, aku tak peduli. “Kriiinggg….kriiinggg” bel istirahat berbunyi. Anak-anak berteriak senang dan pak guru pun mengucapkan salam perpisahan lalu keluar dari kelas.
“Kau mau ke kantin Shoujirou?” Shoyou bertanya. “Katanya hari ini ada menu spesial dan itu terbatas. Kau mau mencobanya?” lanjutnya. “Enggak, aku di sini saja. Sedang tidak nafsu makan hari ini” jawabku acuh. “Kalau kutraktir gimana?” tawarnya. “Ok, langsung saja kita ke kantin, aku lapar hihi” sambil merangkul pundak Shoyou. “Dasar kau ini hahaha.” Sekolah ini adalah salah satu sekolah yang mempunyai fasilitas kantin yang megah. Ada tiga sekolah di kota yang mempunyai fasilitas bagus seperti ini, dua lainnya letaknya agak jauh dari sini. Lantainya yang selalu bersih, dindingnya yang terisi dengan gambar yang kalau dilihat menyejukkan hati, dan penjualnya yang ramah. Dan juga, kantin sekolah kami di isi dengan AC yang membuat sejuk badan dan makan pun jadi lebih enak. Jajanannya juga bervariasi. Dijamin, gak bakalan bosan dengan makanannya.
Mulai dari makanan yang berminyak, makanan berkuah, dan makanan berlapis toping coklat dan yang lainnya, semuanya ada disini. Hari ini ada menu spesial yang hanya ada satu minggu sekali. Nama makanannya adalah French Toast, atau nama lainnya Roti ala Perancis. Semua orang bilang, rasanya sangat menggiurkan. Baru kali ini aku makan roti ini, karena harganya yang cukup mahal, dan biasanya aku lebih memilih membeli jajanan lain yang harganya dua kali lipat lebih murah dari roti ini. Tapi karena di traktir oleh sahabat terbaikku ini aku akhirnya makan roti mahal dari Prancis itu. “Wah, rame sekali. Kalau begini terus kita pasti nggak akan dapat rotinya”Shoyou mengeluh. “Hmmm….pasti rasanya enak sekali. Sampai-sampai antriannya seramai ini.” Kalian pernah menyaksikan film zombie? Seperti itulah gambaran kejadian seperti ini. Kalian juga bisa membayangkannya seperti saat pengantrian pembagian sembako gratis.
“Hei, santai aja dong” teriak salah satu siswa. “Kau santai juga dong” balas siswa yang satunya. “Mau cari mati ha?” “Harusnya aku yang bilang begitu” mereka berdua beradu mulut. “Wah..wah, sepertinya ada yang berkelahi di sana” ucapku. Semua yang mengantri tadi membentuk sebuah lingkaran besar memberi tempat untuk dua orang tadi berkelahi. Mereka mulai beradu tinju dan fokus semua orang telah terganti dari roti French Toast ke perkelahian tersebut. Aku dan Shoyou hanya memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Situasi mulai berubah, dari dunia zombie menjadi dunia UFC. “Bagus, sekarang kesempatan kita buat maju Shoyou. Sini, mana uangnya? Kau kan sudah mentraktirku, jadi kau tidak perlu repot ke sana, biar aku saja yang membelinya untukmu.” Kataku sambil menjulurkan tangan. “Ini uangnya, jangan sampai berkelahi juga ya, hahaha” candanya.
Aku mulai beraksi, dengan badan atletis yang kumiliki, dengan mudahnya aku menyusuri keramaian dan sampai di depan toko. “French Toastnya dua ya pak” ujarku. “Ini dia nak, dua buah French Toast. Apa yang sedang mereka tonton ya nak?”tanyanya lembut. Perkelahian itu tidak terlihat dari depan toko karena terhalangi oleh tubuh anak-anak yang sedang menonton. “Oh itu pak, mereka sedang melihat keberuntungan” jawabku. “Keberuntungan?” tanyanya balik. “Iya pak, mereka sedang melihat keberuntungan buatku” jawabku. Bapak itu memasang ekspresi tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. “Yasudah, itu tidak penting juga. Terimakasih ya nak” ucapnya sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. “Sama-sama pak.” Aku melesat lagi seperti roket melalui keramaian dan dalam sekejap langsung sampai ke tempat Shoyou berdiri.
“Bagaimana pertandingan UFC nya?” tanyaku. “Semakin seru” jawabnya. “Ini, roti spesial French Toast ala Prancis khusus buat teman terbaikku” tambahku. “Hahaha, terimakasih ya” “Terimakasih juga sudah mentraktirku. Ayo kita segera ke kelas sekarang” ajakku. “He? Kenapa? Lagi seru-serunya nih.” “Di keramaian tadi aku melihat guru BK dan beberapa petinggi OSIS sedang berjalan menuju ke sini. Kau tidak mau mendapat masalah karena tidak melerai mereka kan?” “Kalau begitu ayo kita segera bergegas” jawabnya. Kami pun langsung pergi menuju kelas, saat kami melihat ke belakang, guru BK dan petinggi OSIS itu sudah melerai mereka yang berkelahi. Dan kedua anak itu, juga beserta anak-anak yang menonton, di suruh untuk menghadap kepada kepala sekolah. Kalian pasti tau kan, seberapa berat hukuman yang akan diterima kalau sudah berhadapan langsung dengan kepala sekolah. “Untung saja aku melihat mereka tadi, kalau tidak, kita pasti tetap menonton dan dihukum bersama mereka” ucapku dalam hati.
Kami berdua segera menuju ke kelas, meninggalkan mereka semua yang di hukum. “Kriiinngggg….kriiiingg” bel tanda istirahat sudah selesai berbunyi. Belum lagi sempat memakan rotinya, bel sudah berbunyi dan guru Bahasa Inggris kami terkenal dengan ketepatan waktunya datang ke kelas. Satu menit setelah bel berbunyi, dia sudah berada di kelas bahkan kurang dari itu. Aku dan Shoyou memutuskan untuk menahan nafsu makan kami sampai istirahat selanjutnya, yaitu istirahat makan siang. Kami menyimpan rotinya di dalam laci meja. “Selamat siang anak-anak” Seseorang berparas cantik dengan rambutnya yang diikat seperti ekor kuda itu masuk ke kelas menyapa kami semua. “Selamat siang bu” jawab kami semua serentak. Terutama bagi yang laki-laki, mereka semua menjawabnya dengan penuh semangat. Ya, dialah guru bahasa inggris kami yang selalu datang tepat waktu. “Benarkan, kurang dari satu menit, guru ini sudah tiba di kelas” ujarku dalam hati.
Pelajaran dimulai. Hari ini kami membahas tentang grammar, apa itu namanya? Hmmm… present continuous kalau tidak salah, ya, itu dia, present continuous. Aku tidak tau apa itu, belum pernah dengar sebelumnya. Tapi sepertinya teman sebangku ku ini mengetahuinya. Aku bisa melihatnya dari ekspresinya yang sok keren memperhatikan itu. Pelajaran berlangsung dengan lancar, semua murid memperhatikan dan fokus ke depan. Tapi sekali lagi kulihat ke belakang, mereka bertiga sama saja seperti pelajaran sebelumnya. Dua orang diantaranya sedang bermain kartu dan satu orangnya lagi asik bermain smartphone nya. “Mereka sekolah mau main saja atau belajar sih?” tanyaku dalam hati. Seperti sebelumnya juga, aku tidak menghiraukan mereka dan kembali fokus memperhatikan. Tiga puluh menit berlalu, lima belas menit lagi istirahat makan siang. Bu guru memberikan sebuah kertas putih yang berisi beberapa soal.
“Ini ulangan bu?” seorang anak bertanya. “Bukan, ini hanya tes biasa, ibu cuma mau mengukur kalian sudah mengerti berapa persen dari yang ibu jelaskan tadi” jawabnya. Semuanya menunjukkan ekspresi lega, karena apa yang mereka duga tidak terjadi. “Untung saja” kataku dalam hati. “Tapi…” bu guru melanjutkan. “Tapi apa bu?” semua serentak bertanya. “Jika kalian mendapat nilai bagus di tes ini, nilainya nanti bisa membantu nilai ulangan kalian juga lo” lanjutnya. Mendadak ekspresi lega tadi berubah. Ada yang panik karena sudah tau nilainya pasti rendah karena tidak mengerti dengan apa yang bu guru jelaskan tadi. Ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang menjadi semangat, termasuk orang yang berada di sebelahku ini. Karena dia menjadi semangat, aku pun menjadi semangat juga, karena ini bisa menjadi tolak ukur kemampuan kami berdua. Tes pun dimulai.
Semua anak mengerjakannya dengan serius. Sepuluh menit pun berlalu dan waktu untuk mengerjakan tes sudah selesai. Ketua kelas keliling mengambil kertas tes dari masing-masing anak lalu memberikannya kepada bu guru. Bu guru langsung memeriksa kertas kami semua. Jadi, kami bisa mengetahui nilai kami langsung. Dengan lihainya tangan bu guru, pemeriksaan selesai dalam waktu tiga menit. “Hihihi” dengan bangganya dia memperlihatkan nilai sempurnanya kepadaku. Shoyou mendapat nilai 100 dalam tes itu. Sedangkan aku, lima poin dibawah nilainya. Aku dapat 95 dalam tes ini. Dan yang lebih bikin kesal lagi, hanya dia satu-satunya orang di kelas ini, yang mendapat nilai 100. “Iya, iya, aku tau kau dapat nilai sempurna” ujarku kesal melihat dia yang terus memperlihatkan kertas ujiannya kepadaku.
Tiba-tiba sebuah tangan menjulur ke arahnya lalu bergantian ke arahku sambil mengucapkan kata selamat. Ternyata mereka bertiga, yang dari awal tadi tidak pernah serius belajar. “Perkenalkan, namaku Souka, dan mereka berdua adalah temanku, Kuro dan Suzu” ujarnya memperkenalkan diri. “Salam kenal” kata Shoyou bingung. “Kamu pasti Shoyou dan kamu Soujirou kan?” menunjuk kami berdua bergantian. “Iya benar. Kalau boleh tau ada perlu apa ya Souka?” tanyaku. “Oh, begini. Aku dan teman-temanku ada masalah” jawabnya memelas. “Masalah? Masalah apa?” tanyaku balik. “Kami merasa kesulitan untuk memahami apa yang diajarkan guru di depan tadi. Jadi kami mau membuat kelompok diskusi dengan Shoyou, karena dia dari tadi kami lihat sangat bagus di dua pelajaran tadi. Kalau bisa, bukan hanya hari ini saja, kami mau belajar bersama sampai naik kelas nanti itupun kalau Shoyou mau” katanya dengan sopan.
Aku dan Shoyou saling bertatap muka, berdiskusi dengan bahasa isyarat. Kalau di terjemahkan dalam bahasa lisan seperti ini. Shoyou melirik kearahku, alisnya yang sebelah kanan itu bergerak ke atas sedikit maksudnya bertanya “bagaimana menurutmu?” Aku memajukan sedikit bibirku maksudnya menjawab “terserahmu saja.” Dia mengerutkan dahinya, maksudnya bertanya “Kalau begitu kau harus ikut juga.” Aku mengangkat kedua bahuku dan menggelengkan kepalaku sedikit, maksudnya “Aku tidak mau mengganggu. Mereka bilang mau belajar bersamamu, jadi kalau ada aku disitu pastinya akan mengganggu nantinya.” Dia terdiam sebentar lalu mengangguk sedikit, maksudnya “Baiklah kalau begitu, kau yakin gak mau ikut?” Aku menggeleng lagi sambil mengangkat jari jempol ku, maksudnya “Iya aku yakin, semoga sukses bro.” “Ehm..ehm, bagaimana Shoyou? Bisa?” tanyanya sekali lagi.
“Bisa bisa, kapan mau mulai belajar?” Tanya Shoyou balik. Dua puluh menit sebelum istirahat selesai gimana?” “Baiklah. Tempatnya di kelas aja ya” “Ok” jawab Souka. Setelah berunding agak lama, mereka pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. “Kriinngg….kriiingg” bel tanda istirahat berbunyi. Bu guru pun meninggalkan kelas begitu juga dengan teman-teman sekelasku yang lain. Sebelum tiga orang itu keluar dari kelas, sekali lagi mereka memberi bahasa isyarat ke Shoyou mengingatkan waktu belajar bersama, setelah itu keluar kelas menghilang dari pandangan. “Ayo makan di tempat biasa” ajakku. “Ayo, jangan lupa membawa rotimu yang di bawah laci” katanya mengingatkan. Seperti biasanya, aku dan sahabat terbaikku ini menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah. Di sana kami biasanya menghabiskan waktu untuk makan siang, mengobrol, tidur dan melakukan kegiatan lainnya.
Sekolah ku mempunyai 5 lantai. Dan kelas yang aku pakai sekarang ini, berada di lantai keempat. Kelas yang sangat strategis, kalau mau ke atap sekolah, tinggal naik satu lantai, dan kalau mau ke kantin, tinggal turun ke bawah satu lantai. Ruang kepala sekolah dan ruang guru juga berada di lantai 3. Jadi, kalau ada perlu sesuatu, langsung saja pergi ke ruang guru, tidak seperti kelas yang di lantai 1 yang harus menghabiskan banyak tenaga melewati ribuan anak tangga itu. Karena ruang kepala sekolah dan ruang guru berada di lantai yang sama dengan kelas kami, lantai 3 menjadi lantai yang paling bagus diantara lantai-lantai lainnya. Di lantai 3, terdapat banyak hiasan dinding yang megah, dan berkilap-kilap. Dibandingkan dengan kelas lainnya yang berada di lantai yang lain juga, hanya sedikit dan itupun tidak semegah yang kita punya. Salah satunya adalah smartboard yang tersebar di segala penjuru lantai 3 dan pastinya tidak ada di lantai lainnya.
Smartboard ini bisa mengakses informasi apapun tentang sekolah, kecuali informasi-informasi yang sangat rahasia, itu sudah pasti. Dan yang lebih mantapnya lagi adalah, smartboard ini dilengkapi dengan internet yang bisa di akses siapa saja, baik guru maupun murid. Bentuknya seperti mesin ATM yang kalau kita berdiri di depannya, apa yang kita akses tidak kelihatan sama orang lain. Ada empat smartboard yang tersebar di lantai 3, dan keempat-empatnya, tak ada satupun siswa yang menggunakannya untuk mengakses informasi sekolah, semuanya memakai benda itu untuk membuka sosial media, menjelajahi internet, dan ada juga yang bermain game online.  Kita kembali ke atap. Tidak ada yang istimewa dari atap sekolah kami, walaupun begitu, suasana di sana nyaman sekali dan sunyi, jauh dari keramaian.
Saat istirahat makan siang, aku dan Shoyou menghabiskan semua waktu yang kami punya di atap sekolah. Kalau berada di sana, pasti membuat kalian tidak mau kembali ke kelas karena rasa nyamannya. Angin yang berhembus lembut, membuat makan jadi lebih enak dan rasa letih pun hilang. Hari ini aku membawa bekal makan siang onigiri ditambah dengan nasi goreng spesial buatan ibu. Sedangkan Shoyou membawa nasi putih di tambah telur dengan bumbu yang berbentuk hati spesial dari ibunya. “Padahal ibu sudah kuingatkan untuk tidak menambahkan gambar hati di bekal ku lagi” gumamnya. “Hei, itu menandakan rasa cinta ibumu kepadamu Shoyou. Bekal buatannya tidak pantas untuk kau ejek” aku mengingatkannya sambil mengambil satu onigiri.  “Untung saja di sini sepi, kalau rame bisa jadi masalah besar buatku” lanjutnya sambil membubarkan bumbu yang berbentuk hati itu, menjadi tak berbentuk lagi.
“Terserah kau saja Shoyou, aku sudah mengingatkan” sambil mengambil satu onigiri lagi. “Bagaimana persiapanmu untuk mengajari mereka?” lanjutku. “Aku tidak tau” jawabnya memelas. “Tidak tau? Kenapa?” “Soalnya aku tidak tau bagaimana kelakuan mereka. Jadi aku belum tau mental seperti apa yang harus aku siapkan untuk mengajari mereka” lanjutnya lagi sambil mengambil satu onigiri ku. Aku melihatnya dengan ekspresi kesal, lalu dia tersenyum dan tetap memakan onigiri ku. “Aku punya informasi buatmu.” “Tentang apa?” “Tentang bagaimana sikap mereka bertiga saat belajar. Saat pelajaran berlangsung, aku memperhatikan mereka beberapa kali, dan sepertinya kau harus menyiapkan mental yang sangat kuat.” “Memangnya mereka bagaimana?” tanyanya antusias sambil memotong telur yang berukuran besar menjadi kecil.
“Tidak satupun dari mereka yang memperhatikan guru. Dua diantara mereka asik bermain kartu dan satu orangnya lagi asik bermain dengan handphonenya” jawabku dengan nada serius. “Kalau begitu bagaimana aku menghadapi mereka nantinya?” jawabnya cemas. “Mungkin mereka lebih suka belajar dengan yang sepantaran mereka” kataku mengibur sambil mengambil onigiri terakhirku. Kulihat dari tadi Shoyou memperhatikan onigiri terakhir itu. Kuputuskan untuk membaginya menjadi dua bagian lalu memberikannya satu bagian yang lain. “Kita lihat saja nanti” jawabnya. Tak terasa sudah 25 menit sebelum istirahat selesai. Dia segera menghabiskan bekalnya dan langsung pamit pergi ke kelas. Aku tetap berada di atap, tidur sambil menikmati embusan angin lembut yang menyejukkan badan. Aku pun terlelap memasuki dunia mimpi.
“Kriiiing…kriiingg…” bel tanda istirahat sudah selesai berbunyi. Suaranya yang keras itu membangunkanku dari tidur. Aku langsung bergegas menuju kelas. Saat di kelas, kulihat Shoyou duduk di kursinya terdiam, seperti ada sesuatu. “Yo, bagaimana mengajarkannya tadi?” tanyaku mengagetkannya. “Eh, hahaha lancar-lancar saja kok” jawabnya dengan senyumnya yang terlihat agak dipaksakan itu. “ Yakin?” lanjutku. “Iya, tenang saja, semuanya berjalan dengan lancar kok tadi dan taka da hal yang perlu di perhatikan. Sekali lagi dia memperlihatkan ekpresi yang tidak seharusnya dia tunjukkan sekarang. Tersenyum tapi bukan tersenyum, begitulah yang dia tunjukkan kepadaku. Ditambah lagi, dia mengatakannya tidak sambil melihat kearahku. Aku yakin ada sesuatu yang aneh yang membuatnya seperti ini. Entah apa yang sudah mereka bertiga lakukan, aku tidak tahu. Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi dan mengganti topik pembicaraan.
“Habis ini kita belajar apa?” tanyaku. “Fisika” jawabnya pelan. “Ok” jawabku. Aku membiarkannya, tak bertanya lagi. Mungkin dia sedang ingin sendiri. Guru pun datang, dan pelajaran pun dimulai. Aku meliriknya sekali lagi, dia tidak seperti seseorang yang kulihat tadi pagi. “Pasti ada sesuatu” kataku dalam hati.

“Bersambung…..”

“Ikuti terus ya ceritanya……..” J







Rabu, 05 Oktober 2016

Perhatian!!!

                 Hai semuanya. Ada revisi tentang update-an cerita "Bunga Sakura yang mengatup." Ceritanya akan di update 4 hari sekali atau setelah hari rabu cek aja, pasti sudah di update. Yang pastinya, bagian-bagian selanjutnya akan lebih seru dari bagian sebelumnya. Penasaran dengan cerita selanjutnya? Makanya, ikuti terus ceritanya ya!!! :)

                              Terimakasih banyak atas kunjungannya di blog ini.

Bagian Dua : "Aku, Shoyou, dan Klub Jurnalistik"



“Aku, Shoyou, dan Klub Jurnalistik”
“Teng…nong…neng…nong…” (bel pulang sekolah berbunyi).
Guru : “Baiklah anak-anak, cukup sampai disini untuk hari ini. Jangan lupa untuk mengerjakan pr kalian di rumah ya! Hal 34.”
Murid : “Ya pak” mereka menjawab serentak.
Guru : “Kalau begitu, kalian boleh pulang.”
Semuanya membersihkan mejanya masing-masing lalu bergegas pulang. “Plak”, seseorang memegang pundakku.
Shinji : “Himada, klub apa yang kau ikuti?”
Himada : “Bukan urusanmu” (sambil menepis tangan Shinji).
Shinji : “Aku penasaran, klub apa yang akan diikuti oleh orang sepertimu?”
Himada : “Sudah kubilang itu bukan urusanmu.”
      Aku langsung beranjak dari kursiku dan langsung menuju keluar kelas meninggalkannya begitu saja. Shinji Katsuragi, ketau kelas 1-D. Entah kenapa dia selalu mengajakku berbicara, kenal saja tidak. Aku selalu berpikir kalau dia itu adalah pria yang menyukai sesama jenis. Berada didekatnya saja membuatku merinding. Aku selalu bertanya, apakah kegantenganku ini tidak hanya menarik perhatian perempuan saja? Tetapi lelaki pun juga? Hah, entah apa yang aku pikirkan. Yang jelas, keduanya itu tidak mungkin terjadi.
      Jam menunjukkan angka 14.00, itu berarti kegiatan klub akan dimulai lima menit lagi. “Lima menit lagi kah? Apa aku pulang saja ya?” kataku dalam hati. “Lebih baik aku pulang saja. Tidak akan ada yang tau kalau aku akan pulang, aku punya jalan rahasia untuk melewati pos sekuriti itu” lanjutku. “Senangnya, aku tidak sabar untuk mencoba video game yang baru aku beli kemarin saat di rumah nanti. Ditambah segelas coklat hangat dan puding yang kusimpan di lemari es special untuk hari ini. Habis ini belok kekanan, dari situ lurus saja dan disitulah jalan rahasia untuk keluar dari sekolah ini. Tiba-tiba langkahku tertahan saat melihat sesosok wantia tinggi dengan rambutnya yang digerai itu berdiri jauh didepan ku.
      Matanya yang tajam itu, melirik kearahku yang sedang berakting pura-pura tidak tahu. Semakin dekat, semakin menyeramkan saja. Terlihat aura hitam yang menggebu-gebu di balik badannya. “Sial, aku tertangkap basah, padahal tinggal sedikit lagi. Bagaimana ini? Jika aku tetap berjalan kearah sana, aku akan mati. Guru yang satu ini memang tidak bisa diremehkan.” (ucapku dalam hati). Tiba-tiba terlihat tangannya terangkat, menunjuk kearah yang berlawanan dengan tujuanku. Memberitahu untuk berbalik dan menuju ke klub yang sudah aku pilih. Apa boleh buat? Aku kalah hari ini. Rencanaku gagal, aku pun berbalik badan dan menuju ruang klub. Aura membunuh tadi sudah tidak kurasakan lagi. aku melihat kebelakang, mata yang tajam tadi berubah menjadi lunak ditambah dengan senyuman hangat yang terlukis di wajahnya. “Dasar monster” keluhku dalam hati.
      Dengan berat hati, aku berjalan kearah ruangan klub. Aku terdiam, lama aku berdiri di depan pintu memikirkan akan masuk atau tidak. “Bagaimana reaksiku saat masuk nanti? Hai, selamat siang semuanya. Apa kabar kalian? Namaku Himada Shojirou dari kelas 1-D ingin bergabung di klub ini. Mohon kerjasamanya ya!” (khayalku). “Apa seperti itu? Tidak, itu sangat memalukan. Bagaimana ya caranya? Apa dengan cara biasa? Hm… baiklah, dengan cara biasa saja. Sudah diputuskan.”
      “Tok..tok..tok, clekk” (suara pintu terbuka). Dengan tatapan dingin, aku berjalan ke arah kursi kosong yang berada di sudut meja. Suasana yang tadinya ramai, mendadak menjadi sunyi. Semua mata tertuju padaku, bertanya-tanya siapa orang misterius ini. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apa yang harus aku lakukan untuk memecahkan keheningan ? mata mereka yang sedari tadi tidak berhenti melihatku. Seakan akulah yang menjadi penjahatnya disini. “Mungkin akan lebih baik jika aku tidak masuk saja tadi” (kataku dalam hati). “Ha..halo. Selamat datang di klub jurnalistik. Apa kau anggota baru?” seorang pria bertanya kepadaku memecah keheningan. Aku mengangguk. “O..oh, kalau begitu, bisa kau kenalkan dirimu?” lanjutnya. “Baiklah.” Aku pun berdiri dari kursi. Sejenak aku menarik napas.
      “Perkenalkan, namaku Himada Shoujirou dari kelas 1-D. Aku…” “Himada?” belum sempat aku menyelesaikan perkenalan, seorang wanita tiba-tiba memanggil namaku. Semua mata tertuju kearahnya. “Hi..Hikari?” jawabku kaget. “Gak nyangka bakal ketemu di klub ini” jawabnya. “O..oh” jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. “Kalian saling kenal?” Tanya pria tadi. “Dia yang kuceritakan kemarin Yamada-senpai” Hikari menjawab. “Oh, jadi kau ya yang dimaksud dalam cerita Hikari kemarin” lanjutnya. Mereka pun asik berbicara satu sama lain, membicarakan tentag kejadian memalukan yang aku alami kemarin.
      “Ehem..ehem. Boleh aku duduk?” (tanyaku yang memecah keributan). “Tunggu dulu, sebelum kau duduk, boleh kita tau alasanmu kenapa ingin bergabung di klub ini?” Tanya Kak Himada. “Hmmm… alasannya ya, alasannya adalah aktifitas di klub ini tidak menguras banyak tenaga, dan tempat ini bagus untuk tempat bersantai dan membaca buku” jawabku. “Mana mungkin orang sepertimu mengikuti klub ini hanya dengan alasan seperti itu. Pastinya ada alasan khusus yang membuatmu mengikuti kegiatan klub. Ya kan Himada?” Kata seorang anak laki-laki yang wajahnya tampak familiar. “Siapa kau?” Tanyaku dingin. “Eh, ini lho aku, ketua kelasmu” dia menjawab. “Oh ya? Siapa namamu…? Hmm…. Shinjo? Shonji? Shanji?” “Shinji, namaku Shinji Katsuragi, kejam sekali kau Himada, padahal kita kan baru berpapasan tadi di kelas.”
      “Aku tidak ingat” jawabku dingin. “Mungkin kau saja yang sok mengenalnya Katsuragi” Kak Yamada bercanda, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Aku pun dipersilahkan duduk oleh ketua klub, lalu yang lain berdiri bergantian memperkenalkan diri mereka masing-masing. Suasana asing yang terpampang di hadapanku ini, mengingatkanku kepada kenangan lama saat berada di SMP dulu. Semua orang belajar bersama, berdiskusi, mengobrol, tertawa, dan membantu satu sama lain. Semua itu sudah lama aku tinggalkan, karena hal-hal seperti itu lah yang membuatku seperti ini. Semua kenangan-kenangan itu mengalir satu-persatu memperlihatkan diri mereka masing-masing di dalam benakku. Canda, tawa, kebersamaan, pertemanan, kebahagiaan, dan kepercayaan, satu-persatu mencoba membawaku ke masa lalu. Ya, begitulah aku yang dulu. Seorang yang penuh semangat, ceria, dan bersahabat, sampai datang peristiwa itu. Peristiwa yang membuatku berubah 180 derajat dari biasanya. Peristiwa yang membuatku menjadi seorang yang sangat berbeda dari sekarang ini.

                                                                  *****

      “Shoujirou!!! Tunggu aku, jangan cepat-cepat dong jalannya” seorang anak laki-laki memanggilku. “Hahaha, ayo cepat Shoyou, kalau tidak nanti kita akan terlambat” ujarku sambil berlari-lari kecil. “Dasar, selalu saja seperti ini.” “Hahaha” tertawa sambil tetap berlari. Pagi itu, aku dan Shoyou bergegas untuk sampai di sekolah tepat waktu. Kalau kita terlambat, seseorang dengan tubuh berotot, tinggi, dan bermuka garang itu pasti sudah berdiri di depan gerbang sekolah menunggu mangsanya. Siapa lagi kalau bukan dia, “Sang Inugami.” Seorang dewa penjaga yang sangat kuat dan setia. Itulah julukan yang kami berikan kepada pak Hashigawa, petugas keamanan sekolah.
       “Shoyou!!! Ayo cepat, aku tak mau berurusan dengan Inugami untuk kesekian kalinya” sambil tetap berlari. “Huh, hah, huh, hah” (suara napas yang tersengal-sengal).” Kau selalu saja seperti ini Shoujirou, andai saja badanku se-atletis badanmu, pastinya aku bisa mengimbangi larimu itu” Shoyou menggerutu. “Makanya, kau kupaksa begini biar nanti badanmu se-atletis badanku” ujarku. “Hufft” keluhnya. Berawal dari lari-lari kecil, sekarang berganti ke lari yang sebenarnya. Tak peduli seberapa banyak keringat yang bercucuran membasahi badan, yang membuat seragam baju kami basah, kami tetap berlari. Jam menunjukkan pukul 07.25, sedangkan sekolah masuk pada pukul 07.30. jika diperkirakan secara matematis, kami akan sampai di sekolah pada pukul 07.32, dua menit setelah bel sekolah berbunyi. Dan jika begitu, Sang Inugami pasti sudah berada di pos penjagaannya.
      Kami terus berlari sekencang-kencangnya. Tak peduli seberapapun sakitnya, seberapapun letihnya, kami berdua tetap berlari. Aku dan Shoyou adalah anak beasiswa di sekolah kami. Satu tahun lalu, kami berdua mengikuti tes beasiswa di sekolah kami yang sekarang ini, dan tak disangka-sangka kami berdua lolos seleksi dan berhasil mewujudkan impian kami yaitu masuk ke sekolah terfavorit di kota kami, yaitu SMP Kirizawa. Sekolah elit yang biasanya terisi oleh anak-anak orang kaya. Mulai dari pengusaha sampai anggota lembaga kenegaraan, semuanya ada disana. Aku dan Shoyou berasal dari keluarga yang sederhana. Kami berdua tinggal di sudut kota yang jaraknya lima kilometer dari sekolah. Jam 05.30 pagi, kami sudah harus berangkat ke sekolah. Jika tidak, kalian pastinya sudah tau siapa yang sudah menunggu kami di depan gerbang nantinya kalau kami terlambat. “Itu dia gerbangnya” aku berteriak. “Oh tidak, sudah jam 07.30, ayo cepat Shojirou, kalau tidak….” Belum sempat Shoyou menyelesaikan ucapannya, hal yang tidak diharapkan itu pun terjadi. Sang Inugami langsung berlari dari pos penjagaannya menuju kedepan gerbang.
      Kalian tau permainan petak umpet? Jika yang menjaga mengetahui tempat persembunyian kalian dari jauh, dan kalian tau kalau si penjaga melihat kalian, itulah saat-saat yang menegangkan. Kedua belah pihak, yang menjaga dengan yang bersembunyi pastinya akan berlari menuju ke pos penjagaan untuk menyentuhnya agar si penjaga bisa menangkap yang bersembunyi dan agar yang bersembunyi bisa menang dan lolos dari penjagaan. Begitulah situasi kami saat ini. Tapi kami buka sedang bermain petak umpet, melainkan sedang berada di tengah peristiwa yang bisa merenggut nyawa. Sang Inugami tak akan segan untuk menghukum murid yang telat dengan hukuman yang sangat berat.
      Tapi untungnya, kami berhasil sampai disaat yang bersamaan ketika dia sampai di titik penjagaannya atau yang kita sebut titik kesengsaraan. Kami berdua terdiam melihat dia memasang muka masamnya kearah kami, dan hanya apa yang bisa kami lakukan? Jawabannya adalah pasrah. Lama dia melihat kami dengan muka masamnya itu, tiba-tiba dia tersenyum sambil berkata, “Kalian tidak terlambat, ayo cepat ke kelas sana, guru kalian pasti sudah menunggu kalian.” Kami berdua kaget melihat perubahannya yang tak terduga itu. “Apa Sang Inugami sudah melunak?” Tanya kami dalam hati. “Kenapa? Kok malah diem?” tanyanya halus. “Ti..tidak apa-apa kok pak, hehe” jawab Shoyou. Kami pun berterimakasih kepada bapak itu dan langsung menuju kelas. Aku tetap melihatnya sembari berjalan kearah aula sekolah. Senyum damainya itu menggiring kami ke aula, tetapi saat beberapa suara hentakan sepatu terdengar, senyumnya tadi mendadak berubah kembali menjadi masam kearah  beberapa murid yang baru datang. Dan sekali lagi, perubahannya itu mengagetkan kami.
                                 “Semoga kalian semua selamat” ucapku dalam hati.

                                                                                                   “Bersambung……”
                              Bagian 3:   “Smp Kirizawa”……………
                                                   Terus Ikuti Ya Ceritanya!!! :)