Rabu, 05 Oktober 2016

Bagian Dua : "Aku, Shoyou, dan Klub Jurnalistik"



“Aku, Shoyou, dan Klub Jurnalistik”
“Teng…nong…neng…nong…” (bel pulang sekolah berbunyi).
Guru : “Baiklah anak-anak, cukup sampai disini untuk hari ini. Jangan lupa untuk mengerjakan pr kalian di rumah ya! Hal 34.”
Murid : “Ya pak” mereka menjawab serentak.
Guru : “Kalau begitu, kalian boleh pulang.”
Semuanya membersihkan mejanya masing-masing lalu bergegas pulang. “Plak”, seseorang memegang pundakku.
Shinji : “Himada, klub apa yang kau ikuti?”
Himada : “Bukan urusanmu” (sambil menepis tangan Shinji).
Shinji : “Aku penasaran, klub apa yang akan diikuti oleh orang sepertimu?”
Himada : “Sudah kubilang itu bukan urusanmu.”
      Aku langsung beranjak dari kursiku dan langsung menuju keluar kelas meninggalkannya begitu saja. Shinji Katsuragi, ketau kelas 1-D. Entah kenapa dia selalu mengajakku berbicara, kenal saja tidak. Aku selalu berpikir kalau dia itu adalah pria yang menyukai sesama jenis. Berada didekatnya saja membuatku merinding. Aku selalu bertanya, apakah kegantenganku ini tidak hanya menarik perhatian perempuan saja? Tetapi lelaki pun juga? Hah, entah apa yang aku pikirkan. Yang jelas, keduanya itu tidak mungkin terjadi.
      Jam menunjukkan angka 14.00, itu berarti kegiatan klub akan dimulai lima menit lagi. “Lima menit lagi kah? Apa aku pulang saja ya?” kataku dalam hati. “Lebih baik aku pulang saja. Tidak akan ada yang tau kalau aku akan pulang, aku punya jalan rahasia untuk melewati pos sekuriti itu” lanjutku. “Senangnya, aku tidak sabar untuk mencoba video game yang baru aku beli kemarin saat di rumah nanti. Ditambah segelas coklat hangat dan puding yang kusimpan di lemari es special untuk hari ini. Habis ini belok kekanan, dari situ lurus saja dan disitulah jalan rahasia untuk keluar dari sekolah ini. Tiba-tiba langkahku tertahan saat melihat sesosok wantia tinggi dengan rambutnya yang digerai itu berdiri jauh didepan ku.
      Matanya yang tajam itu, melirik kearahku yang sedang berakting pura-pura tidak tahu. Semakin dekat, semakin menyeramkan saja. Terlihat aura hitam yang menggebu-gebu di balik badannya. “Sial, aku tertangkap basah, padahal tinggal sedikit lagi. Bagaimana ini? Jika aku tetap berjalan kearah sana, aku akan mati. Guru yang satu ini memang tidak bisa diremehkan.” (ucapku dalam hati). Tiba-tiba terlihat tangannya terangkat, menunjuk kearah yang berlawanan dengan tujuanku. Memberitahu untuk berbalik dan menuju ke klub yang sudah aku pilih. Apa boleh buat? Aku kalah hari ini. Rencanaku gagal, aku pun berbalik badan dan menuju ruang klub. Aura membunuh tadi sudah tidak kurasakan lagi. aku melihat kebelakang, mata yang tajam tadi berubah menjadi lunak ditambah dengan senyuman hangat yang terlukis di wajahnya. “Dasar monster” keluhku dalam hati.
      Dengan berat hati, aku berjalan kearah ruangan klub. Aku terdiam, lama aku berdiri di depan pintu memikirkan akan masuk atau tidak. “Bagaimana reaksiku saat masuk nanti? Hai, selamat siang semuanya. Apa kabar kalian? Namaku Himada Shojirou dari kelas 1-D ingin bergabung di klub ini. Mohon kerjasamanya ya!” (khayalku). “Apa seperti itu? Tidak, itu sangat memalukan. Bagaimana ya caranya? Apa dengan cara biasa? Hm… baiklah, dengan cara biasa saja. Sudah diputuskan.”
      “Tok..tok..tok, clekk” (suara pintu terbuka). Dengan tatapan dingin, aku berjalan ke arah kursi kosong yang berada di sudut meja. Suasana yang tadinya ramai, mendadak menjadi sunyi. Semua mata tertuju padaku, bertanya-tanya siapa orang misterius ini. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apa yang harus aku lakukan untuk memecahkan keheningan ? mata mereka yang sedari tadi tidak berhenti melihatku. Seakan akulah yang menjadi penjahatnya disini. “Mungkin akan lebih baik jika aku tidak masuk saja tadi” (kataku dalam hati). “Ha..halo. Selamat datang di klub jurnalistik. Apa kau anggota baru?” seorang pria bertanya kepadaku memecah keheningan. Aku mengangguk. “O..oh, kalau begitu, bisa kau kenalkan dirimu?” lanjutnya. “Baiklah.” Aku pun berdiri dari kursi. Sejenak aku menarik napas.
      “Perkenalkan, namaku Himada Shoujirou dari kelas 1-D. Aku…” “Himada?” belum sempat aku menyelesaikan perkenalan, seorang wanita tiba-tiba memanggil namaku. Semua mata tertuju kearahnya. “Hi..Hikari?” jawabku kaget. “Gak nyangka bakal ketemu di klub ini” jawabnya. “O..oh” jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. “Kalian saling kenal?” Tanya pria tadi. “Dia yang kuceritakan kemarin Yamada-senpai” Hikari menjawab. “Oh, jadi kau ya yang dimaksud dalam cerita Hikari kemarin” lanjutnya. Mereka pun asik berbicara satu sama lain, membicarakan tentag kejadian memalukan yang aku alami kemarin.
      “Ehem..ehem. Boleh aku duduk?” (tanyaku yang memecah keributan). “Tunggu dulu, sebelum kau duduk, boleh kita tau alasanmu kenapa ingin bergabung di klub ini?” Tanya Kak Himada. “Hmmm… alasannya ya, alasannya adalah aktifitas di klub ini tidak menguras banyak tenaga, dan tempat ini bagus untuk tempat bersantai dan membaca buku” jawabku. “Mana mungkin orang sepertimu mengikuti klub ini hanya dengan alasan seperti itu. Pastinya ada alasan khusus yang membuatmu mengikuti kegiatan klub. Ya kan Himada?” Kata seorang anak laki-laki yang wajahnya tampak familiar. “Siapa kau?” Tanyaku dingin. “Eh, ini lho aku, ketua kelasmu” dia menjawab. “Oh ya? Siapa namamu…? Hmm…. Shinjo? Shonji? Shanji?” “Shinji, namaku Shinji Katsuragi, kejam sekali kau Himada, padahal kita kan baru berpapasan tadi di kelas.”
      “Aku tidak ingat” jawabku dingin. “Mungkin kau saja yang sok mengenalnya Katsuragi” Kak Yamada bercanda, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Aku pun dipersilahkan duduk oleh ketua klub, lalu yang lain berdiri bergantian memperkenalkan diri mereka masing-masing. Suasana asing yang terpampang di hadapanku ini, mengingatkanku kepada kenangan lama saat berada di SMP dulu. Semua orang belajar bersama, berdiskusi, mengobrol, tertawa, dan membantu satu sama lain. Semua itu sudah lama aku tinggalkan, karena hal-hal seperti itu lah yang membuatku seperti ini. Semua kenangan-kenangan itu mengalir satu-persatu memperlihatkan diri mereka masing-masing di dalam benakku. Canda, tawa, kebersamaan, pertemanan, kebahagiaan, dan kepercayaan, satu-persatu mencoba membawaku ke masa lalu. Ya, begitulah aku yang dulu. Seorang yang penuh semangat, ceria, dan bersahabat, sampai datang peristiwa itu. Peristiwa yang membuatku berubah 180 derajat dari biasanya. Peristiwa yang membuatku menjadi seorang yang sangat berbeda dari sekarang ini.

                                                                  *****

      “Shoujirou!!! Tunggu aku, jangan cepat-cepat dong jalannya” seorang anak laki-laki memanggilku. “Hahaha, ayo cepat Shoyou, kalau tidak nanti kita akan terlambat” ujarku sambil berlari-lari kecil. “Dasar, selalu saja seperti ini.” “Hahaha” tertawa sambil tetap berlari. Pagi itu, aku dan Shoyou bergegas untuk sampai di sekolah tepat waktu. Kalau kita terlambat, seseorang dengan tubuh berotot, tinggi, dan bermuka garang itu pasti sudah berdiri di depan gerbang sekolah menunggu mangsanya. Siapa lagi kalau bukan dia, “Sang Inugami.” Seorang dewa penjaga yang sangat kuat dan setia. Itulah julukan yang kami berikan kepada pak Hashigawa, petugas keamanan sekolah.
       “Shoyou!!! Ayo cepat, aku tak mau berurusan dengan Inugami untuk kesekian kalinya” sambil tetap berlari. “Huh, hah, huh, hah” (suara napas yang tersengal-sengal).” Kau selalu saja seperti ini Shoujirou, andai saja badanku se-atletis badanmu, pastinya aku bisa mengimbangi larimu itu” Shoyou menggerutu. “Makanya, kau kupaksa begini biar nanti badanmu se-atletis badanku” ujarku. “Hufft” keluhnya. Berawal dari lari-lari kecil, sekarang berganti ke lari yang sebenarnya. Tak peduli seberapa banyak keringat yang bercucuran membasahi badan, yang membuat seragam baju kami basah, kami tetap berlari. Jam menunjukkan pukul 07.25, sedangkan sekolah masuk pada pukul 07.30. jika diperkirakan secara matematis, kami akan sampai di sekolah pada pukul 07.32, dua menit setelah bel sekolah berbunyi. Dan jika begitu, Sang Inugami pasti sudah berada di pos penjagaannya.
      Kami terus berlari sekencang-kencangnya. Tak peduli seberapapun sakitnya, seberapapun letihnya, kami berdua tetap berlari. Aku dan Shoyou adalah anak beasiswa di sekolah kami. Satu tahun lalu, kami berdua mengikuti tes beasiswa di sekolah kami yang sekarang ini, dan tak disangka-sangka kami berdua lolos seleksi dan berhasil mewujudkan impian kami yaitu masuk ke sekolah terfavorit di kota kami, yaitu SMP Kirizawa. Sekolah elit yang biasanya terisi oleh anak-anak orang kaya. Mulai dari pengusaha sampai anggota lembaga kenegaraan, semuanya ada disana. Aku dan Shoyou berasal dari keluarga yang sederhana. Kami berdua tinggal di sudut kota yang jaraknya lima kilometer dari sekolah. Jam 05.30 pagi, kami sudah harus berangkat ke sekolah. Jika tidak, kalian pastinya sudah tau siapa yang sudah menunggu kami di depan gerbang nantinya kalau kami terlambat. “Itu dia gerbangnya” aku berteriak. “Oh tidak, sudah jam 07.30, ayo cepat Shojirou, kalau tidak….” Belum sempat Shoyou menyelesaikan ucapannya, hal yang tidak diharapkan itu pun terjadi. Sang Inugami langsung berlari dari pos penjagaannya menuju kedepan gerbang.
      Kalian tau permainan petak umpet? Jika yang menjaga mengetahui tempat persembunyian kalian dari jauh, dan kalian tau kalau si penjaga melihat kalian, itulah saat-saat yang menegangkan. Kedua belah pihak, yang menjaga dengan yang bersembunyi pastinya akan berlari menuju ke pos penjagaan untuk menyentuhnya agar si penjaga bisa menangkap yang bersembunyi dan agar yang bersembunyi bisa menang dan lolos dari penjagaan. Begitulah situasi kami saat ini. Tapi kami buka sedang bermain petak umpet, melainkan sedang berada di tengah peristiwa yang bisa merenggut nyawa. Sang Inugami tak akan segan untuk menghukum murid yang telat dengan hukuman yang sangat berat.
      Tapi untungnya, kami berhasil sampai disaat yang bersamaan ketika dia sampai di titik penjagaannya atau yang kita sebut titik kesengsaraan. Kami berdua terdiam melihat dia memasang muka masamnya kearah kami, dan hanya apa yang bisa kami lakukan? Jawabannya adalah pasrah. Lama dia melihat kami dengan muka masamnya itu, tiba-tiba dia tersenyum sambil berkata, “Kalian tidak terlambat, ayo cepat ke kelas sana, guru kalian pasti sudah menunggu kalian.” Kami berdua kaget melihat perubahannya yang tak terduga itu. “Apa Sang Inugami sudah melunak?” Tanya kami dalam hati. “Kenapa? Kok malah diem?” tanyanya halus. “Ti..tidak apa-apa kok pak, hehe” jawab Shoyou. Kami pun berterimakasih kepada bapak itu dan langsung menuju kelas. Aku tetap melihatnya sembari berjalan kearah aula sekolah. Senyum damainya itu menggiring kami ke aula, tetapi saat beberapa suara hentakan sepatu terdengar, senyumnya tadi mendadak berubah kembali menjadi masam kearah  beberapa murid yang baru datang. Dan sekali lagi, perubahannya itu mengagetkan kami.
                                 “Semoga kalian semua selamat” ucapku dalam hati.

                                                                                                   “Bersambung……”
                              Bagian 3:   “Smp Kirizawa”……………
                                                   Terus Ikuti Ya Ceritanya!!! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar