" Smp Kirizawa "
“hah..huh..hah…huh” sekali lagi kami
harus berlari. Setelah lepas dari daerah kekuasaan Sang Inugami, kami berdua
berlari lagi menuju kelas. Untung saja berkat berhenti sebentar di pos
penjagaan tadi, baju seragam kami yang tadinya sangat basah, menjadi agak
kering. Tapi, satu hal yang yang pastinya nanti akan menjadi sebuah masalah.
Ya, benar, bau badan kami yang masam ini tidak akan mudah untuk hilang.
Beberapa kali kucoba untuk mencium bau badan ku sendiri, beberapa kali juga aku
mau pingsan. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa Shoyou memikirkan hal yang sama
ya?
Tampaknya dia tidak memikirkan hal
yang serupa denganku. Sedari tadi kulihat, dia hanya fokus berlari untuk sampai
ke kelas. “Himada” tiba-tiba dia memanggilku. “Aku tau kau sedang memikirkan
masalah bau badan ini kan? Tenang saja, tidak usah kau pikirkan. Aku ada
solusinya.” Kata-kata yang dikeluarkannya dengan ekspresi wajah yang sok keren
itu membuatku tenang. “Tapia apa…” belum sempat aku bertanya, dia langsung
memotongnya. “Su….suhdahhh lahh, hah…hah..ha.. nantih ajaah dii kehlass yah”
ekspresinya yang sok cool tadi,
mendadak berubah menjadi ekspresi yang seharusnya. “Hei Shoyou” panggilku
dingin. “Yah?” jawabnya tersengal-sengal.
“Kalau capek ngomong aja, gak usah
pakai akting sok keren segala, hahaha” ejekku. Nasib baik sekali lagi menimpa
kami. Sesampainya di kelas, hal kedua yang kami takuti tidak terjadi. Guru matematika
belum hadir di kelas, seharusnya dari 10 menit yang lalu, kegiatan belajar
mengajar sudah dimulai. Tapi syukurlah, kami tak dapat hukuman dan tak perlu
berlari lagi ke ruang BK. Kami langsung menuju kursi lalu duduk. Hidungku sudah
berontak dari tadi karena bau ini. Sengaja aku tak bertanya, karena sebelum
kutanya, dia sudah mengaduk isi tasnya terlebih dahulu mencari sesuatu. Benda
pertama yang keluar dari tas nya adalah buku, diikuti oleh alat tulis lainnya.
Kuperhatikan lamat-lamat, menanti barang yang sudah kutunggu-tunggu dari tadi.
Benda kedua yang dikeluarkannya adalah sisir yang berbentuk seperti pisau lipat
yang berkilau dengan warna silvernya.
Tebakanku salah, kukira dia akan
mengeluarkan benda itu. Dia melanjutkan membedah tasnya. “Kali ini pasti parfumnya”kataku
dalam hati. Tebakanku salah lagi, kali ini dia mengeluarkan pomadenya yang
kelihatannya cukup mahal. Sekali lagi dia menggeledah isi tasnya itu. Aku
memperhatikannya dengan seksama, berharap benda yang dinanti-nantikan sejak
tadi keluar dari tas itu. Hidung ini sudah dari tadi tidak tahan membendung bau
ini. Tiba-tiba tangannya terhenti pada satu titik. “Ini dia”gumamku senang.
“Nih, tadaaa” ucapnya. Tergambar ekspresi seperti seorang bajak laut yang baru
saja menemukan peti harta karun di wajahnya. Mataku melotot, menatap tidak
percaya. Apa yang ada, tidak seperti apa
yang kuduga. “Pakai saja sebanyak yang kau mau hihi” katanya menawarkan.
“Shoyou” aku memanggil pelan. “Tidak
usah sungkan-sungkan Shoujirou, pakai saja semamumu” “Ini kan kospray, pelicin baju yang mau
disetrika, kenapa kau membawanya ke sekolah? Terus mana solusi yang kau
janjikan itu?” teriakku kesal. “Ini solusinya” jawabnya santai sambil
menyemprot pelicin itu ke baju seragamnya. “Ini mana bisa disebut sebagai
solusi, yang ada malah baju kita tambah bau dibuatnya” “Kau salah Soujirou.
Pelicin ini mengandung senyawa bla…bla..bla..bla..” dia menjelaskannya secara
detail, apa saja yang terkandung didalamnya. “Dasar anak pintar” kataku dalam
hati. Pusing aku mendengarnya. Lima menit berlalu, ceramah panjangnya itu belum
juga selesai. Entah apa yang disebutnya. Eter? Bukan, ester? Itulah yang
disebutnya. Shoyou adalah anak yang jenius. Selalu saja menjadi yang terbaik di
kelas saat kami berada di sekolah dasar. Sedangkan aku, selalu saja menjadi
nomor dua atau tiga. Teman-teman banyak yang bertanya kepadanya, mengajaknya
belajar bersama, dan ada juga yang mau membayarnya untuk menjadi guru privat.
Tapi, untuk yang menjadi guru privat, dia menolaknya, katanya takut salah
mengajari nantinya.
Aku tidak tahu apa yang dimakannya di
rumah, sampai-sampai bisa punya otak seperti itu. Itu kalau dilihat dari sisi
akademik. Kalau dilihat dari sisi pelajaran yang menggunakan fisik, seperti
pelajaran olahraga, akulah yang menang. Aku suka sekali berolahraga. Hampir
semua jenis olahraga kukuasai. Kecuali satu, permainan baseball. Sangat susah untuk mengarahkan pemukul untuk bisa pas
mengenai bolanya. Delapan menit berlalu. Dia masih saja sibuk menjelaskan
komponen-komponen penyusun pelicin itu. Aku bosan mendengarnya, dan tak ada
pilihan lain. Langsung saja kurampas pelicin itu dan menyemprotkannya ke baju.
“Jadi intinya adalah, selain bisa digunakan untuk melincinkan baju yang mau di
setrika, kospray juga bisa dipakai
sebagai parfum” tambanya. “Iya-iya, aku mengerti” jawabku malas.
“Selamat pagi anak-anak. Maaf ya
bapak terlambat, ada sedikit urusan tadi.” Seseorang bertubuh tinggi dan
berambut ikal itu tiba-tiba masuk ke kelas, membuat semua perhatian tertuju
padanya. “Bagaimana kabar kalian semua hari ini?” tanyanya lembut sambil
memperbaiki rambutnya yang agak berantakan itu. “Baik pak” semua menjawab
serentak. “Baguslah kalau begitu. Langsung kita mulai saja, buka buku kalian
halaman 46. Hari ini kita akan belajar tentang KPK dan FPB.” Semuanya segera
membuka buku pelajaran masing-masing dan langsung memperhatikan ke apa yang pak
guru jelaskan. Suasana kelas yang lengang, sembari diembus angin AC yang
menyejukkan, membuat kegiatan belajar mengajar semakin nyaman. Semuanya
bersemangat untuk belajar, kecuali mereka bertiga yang duduk di pojok kanan
bagian belakang. Dari tadi kulihat, tidak ada satupun dari mereka yang
memperhatikan, malahan asik sendiri.
Dua diantaranya sedang bermain kartu
dan seorangnya lagi asik bermain dengan gadgetnya. “Ehem, yang di belakang sana
mau belajar atau tidak? Kalau mau, tolong jangan berisik” pak guru menegur.
Ternyata pak guru juga memperhatikan mereka dari tadi. Gadget dan kartu tadi
dengan cepatnya mereka simpan ke dalam laci. “Ya pak” mereka menjawab. Pak guru
kembali menjelaskan, dan kulihat mereka sudah kembali bermain gadget dan kartu
lagi. Apa peduliku, biarlah mereka, mereka sendiri yang nantinya akan merasakan
akibatnya. Aku berpaling, dan memperhatikan pelajaran lagi. Papan tulis itu
lama-kelamaan terselimuti oleh ribuan angka. Karena sibuk memperhatikan tiga
orang berandal di belakang, aku jadi tidak mengerti apa yang dijelaskan pak
guru di depan. Tetapi, yang di sebelahku sudah seperti patung saja. Matanya
menatap lurus ke depan, badanya tegap dan kaku. Itulah dia, mode konsentrasi
yang luar biasa yang biasa Shoyou keluarkan saat serius. “Kalau begini terus,
aku pasti akan kalah lagi dari Shoyou nantinya. Lebih baik aku serius juga”
kataku dalam hati.
Tiga puluh menit berlalu, tak terasa
lima belas menit lagi istirahat. Pak guru sudah menulis beberapa soal di papan
tulis. Lima soal tepatnya. “Ada yang mau mengerjakan soal ke depan?” pak guru
bertanya. “Dan juga, siapa yang bisa menjawab soal nomor lima, akan bapak kasih
nilai tambahan, karena soal nomor lima lebih sulit dari yang lain” lanjutnya.
“Saya nomor 3 pak… saya nomor 2 pak… saya nomor 4 pak… nomor 1 pak” semuanya
berteriak untuk dapat mengerjakan soal di depan. Tapi, tak ada satupun yang mau
mengerjakan soal nomor lima. “Saya nomor lima pak” Shoyou mengangkat tangan.
Semua mata tertuju padanya. Karena aku tak mau kalah darinya, aku juga mau ke
depan ngerjain soal. Biarlah gak mendapat nilai tambahan, yang penting aku maju
dan mengimbangi Shoyou. “Saya nomor 3 pak” aku pun mengangkat tangan menunjuk
nomor 3 untuk aku kerjakan, karena hanya itu yang aku mengerti.
“Baik. Nomor 1. Shizuya, nomor 2.
Kurobane, nomor 3. Himada, nomor 4. Tora, dan nomor 5. Shoyou. Silakan maju ke
depan” pak guru memanggil. Kami berlima serentak maju dan mengerjakan soal
masing-masing. Aku melirik sedikit ke arah Shoyou, dia sudah separuh jalan
ternyata. Cepat sekali, “Yah, aku pasti akan kalah lagi di SMP ini” kataku
dalam hati. “Whoa, kau benar Shoyou, jawabanmu tepat sekali. Selamat, kau
mendapat poin tambahan” pak guru memberitahu. “Terima kasih pak” jawabnya. Kami
berlima duduk kembali di kursi masing-masing. Sekilas aku melihat, tiga orang
berandalan tadi melihat ke arah Shoyou sambil menunjuknya. Mereka sepertinya
sedang mebicarakan kepintarannya atau sedang merencanakan sesuatu? Biarkan
saja, aku tak peduli. “Kriiinggg….kriiinggg” bel istirahat berbunyi. Anak-anak
berteriak senang dan pak guru pun mengucapkan salam perpisahan lalu keluar dari
kelas.
“Kau mau ke kantin Shoujirou?” Shoyou
bertanya. “Katanya hari ini ada menu spesial dan itu terbatas. Kau mau
mencobanya?” lanjutnya. “Enggak, aku di sini saja. Sedang tidak nafsu makan
hari ini” jawabku acuh. “Kalau kutraktir gimana?” tawarnya. “Ok, langsung saja
kita ke kantin, aku lapar hihi” sambil merangkul pundak Shoyou. “Dasar kau ini
hahaha.” Sekolah ini adalah salah satu sekolah yang mempunyai fasilitas kantin
yang megah. Ada tiga sekolah di kota yang mempunyai fasilitas bagus seperti
ini, dua lainnya letaknya agak jauh dari sini. Lantainya yang selalu bersih,
dindingnya yang terisi dengan gambar yang kalau dilihat menyejukkan hati, dan
penjualnya yang ramah. Dan juga, kantin sekolah kami di isi dengan AC yang
membuat sejuk badan dan makan pun jadi lebih enak. Jajanannya juga bervariasi.
Dijamin, gak bakalan bosan dengan makanannya.
Mulai dari makanan yang berminyak,
makanan berkuah, dan makanan berlapis toping coklat dan yang lainnya, semuanya
ada disini. Hari ini ada menu spesial yang hanya ada satu minggu sekali. Nama
makanannya adalah French Toast, atau nama lainnya Roti ala Perancis. Semua
orang bilang, rasanya sangat menggiurkan. Baru kali ini aku makan roti ini,
karena harganya yang cukup mahal, dan biasanya aku lebih memilih membeli
jajanan lain yang harganya dua kali lipat lebih murah dari roti ini. Tapi
karena di traktir oleh sahabat terbaikku ini aku akhirnya makan roti mahal dari
Prancis itu. “Wah, rame sekali. Kalau begini terus kita pasti nggak akan dapat
rotinya”Shoyou mengeluh. “Hmmm….pasti rasanya enak sekali. Sampai-sampai
antriannya seramai ini.” Kalian pernah menyaksikan film zombie? Seperti itulah
gambaran kejadian seperti ini. Kalian juga bisa membayangkannya seperti saat
pengantrian pembagian sembako gratis.
“Hei, santai aja dong” teriak salah
satu siswa. “Kau santai juga dong” balas siswa yang satunya. “Mau cari mati
ha?” “Harusnya aku yang bilang begitu” mereka berdua beradu mulut. “Wah..wah,
sepertinya ada yang berkelahi di sana” ucapku. Semua yang mengantri tadi
membentuk sebuah lingkaran besar memberi tempat untuk dua orang tadi berkelahi.
Mereka mulai beradu tinju dan fokus semua orang telah terganti dari roti French
Toast ke perkelahian tersebut. Aku dan Shoyou hanya memperhatikan mereka berdua
dari kejauhan. Situasi mulai berubah, dari dunia zombie menjadi dunia UFC.
“Bagus, sekarang kesempatan kita buat maju Shoyou. Sini, mana uangnya? Kau kan
sudah mentraktirku, jadi kau tidak perlu repot ke sana, biar aku saja yang
membelinya untukmu.” Kataku sambil menjulurkan tangan. “Ini uangnya, jangan
sampai berkelahi juga ya, hahaha” candanya.
Aku mulai beraksi, dengan badan
atletis yang kumiliki, dengan mudahnya aku menyusuri keramaian dan sampai di
depan toko. “French Toastnya dua ya pak” ujarku. “Ini dia nak, dua buah French
Toast. Apa yang sedang mereka tonton ya nak?”tanyanya lembut. Perkelahian itu
tidak terlihat dari depan toko karena terhalangi oleh tubuh anak-anak yang
sedang menonton. “Oh itu pak, mereka sedang melihat keberuntungan” jawabku.
“Keberuntungan?” tanyanya balik. “Iya pak, mereka sedang melihat keberuntungan
buatku” jawabku. Bapak itu memasang ekspresi tidak mengerti dengan apa yang aku
katakan. “Yasudah, itu tidak penting juga. Terimakasih ya nak” ucapnya sambil
tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. “Sama-sama pak.” Aku
melesat lagi seperti roket melalui keramaian dan dalam sekejap langsung sampai
ke tempat Shoyou berdiri.
“Bagaimana pertandingan UFC nya?”
tanyaku. “Semakin seru” jawabnya. “Ini, roti spesial French Toast ala Prancis
khusus buat teman terbaikku” tambahku. “Hahaha, terimakasih ya” “Terimakasih
juga sudah mentraktirku. Ayo kita segera ke kelas sekarang” ajakku. “He?
Kenapa? Lagi seru-serunya nih.” “Di keramaian tadi aku melihat guru BK dan
beberapa petinggi OSIS sedang berjalan menuju ke sini. Kau tidak mau mendapat
masalah karena tidak melerai mereka kan?” “Kalau begitu ayo kita segera
bergegas” jawabnya. Kami pun langsung pergi menuju kelas, saat kami melihat ke
belakang, guru BK dan petinggi OSIS itu sudah melerai mereka yang berkelahi.
Dan kedua anak itu, juga beserta anak-anak yang menonton, di suruh untuk
menghadap kepada kepala sekolah. Kalian pasti tau kan, seberapa berat hukuman
yang akan diterima kalau sudah berhadapan langsung dengan kepala sekolah. “Untung
saja aku melihat mereka tadi, kalau tidak, kita pasti tetap menonton dan
dihukum bersama mereka” ucapku dalam hati.
Kami berdua segera menuju ke kelas,
meninggalkan mereka semua yang di hukum. “Kriiinngggg….kriiiingg” bel tanda
istirahat sudah selesai berbunyi. Belum lagi sempat memakan rotinya, bel sudah
berbunyi dan guru Bahasa Inggris kami terkenal dengan ketepatan waktunya datang
ke kelas. Satu menit setelah bel berbunyi, dia sudah berada di kelas bahkan
kurang dari itu. Aku dan Shoyou memutuskan untuk menahan nafsu makan kami
sampai istirahat selanjutnya, yaitu istirahat makan siang. Kami menyimpan
rotinya di dalam laci meja. “Selamat siang anak-anak” Seseorang berparas cantik
dengan rambutnya yang diikat seperti ekor kuda itu masuk ke kelas menyapa kami
semua. “Selamat siang bu” jawab kami semua serentak. Terutama bagi yang
laki-laki, mereka semua menjawabnya dengan penuh semangat. Ya, dialah guru
bahasa inggris kami yang selalu datang tepat waktu. “Benarkan, kurang dari satu
menit, guru ini sudah tiba di kelas” ujarku dalam hati.
Pelajaran dimulai. Hari ini kami
membahas tentang grammar, apa itu namanya? Hmmm… present continuous kalau tidak
salah, ya, itu dia, present continuous. Aku tidak tau apa itu, belum pernah
dengar sebelumnya. Tapi sepertinya teman sebangku ku ini mengetahuinya. Aku
bisa melihatnya dari ekspresinya yang sok keren memperhatikan itu. Pelajaran
berlangsung dengan lancar, semua murid memperhatikan dan fokus ke depan. Tapi
sekali lagi kulihat ke belakang, mereka bertiga sama saja seperti pelajaran
sebelumnya. Dua orang diantaranya sedang bermain kartu dan satu orangnya lagi
asik bermain smartphone nya. “Mereka sekolah mau main saja atau belajar sih?”
tanyaku dalam hati. Seperti sebelumnya juga, aku tidak menghiraukan mereka dan
kembali fokus memperhatikan. Tiga puluh menit berlalu, lima belas menit lagi
istirahat makan siang. Bu guru memberikan sebuah kertas putih yang berisi
beberapa soal.
“Ini ulangan bu?” seorang anak
bertanya. “Bukan, ini hanya tes biasa, ibu cuma mau mengukur kalian sudah
mengerti berapa persen dari yang ibu jelaskan tadi” jawabnya. Semuanya
menunjukkan ekspresi lega, karena apa yang mereka duga tidak terjadi. “Untung
saja” kataku dalam hati. “Tapi…” bu guru melanjutkan. “Tapi apa bu?” semua
serentak bertanya. “Jika kalian mendapat nilai bagus di tes ini, nilainya nanti
bisa membantu nilai ulangan kalian juga lo” lanjutnya. Mendadak ekspresi lega
tadi berubah. Ada yang panik karena sudah tau nilainya pasti rendah karena
tidak mengerti dengan apa yang bu guru jelaskan tadi. Ada yang biasa-biasa
saja, dan ada juga yang menjadi semangat, termasuk orang yang berada di
sebelahku ini. Karena dia menjadi semangat, aku pun menjadi semangat juga,
karena ini bisa menjadi tolak ukur kemampuan kami berdua. Tes pun dimulai.
Semua anak mengerjakannya dengan
serius. Sepuluh menit pun berlalu dan waktu untuk mengerjakan tes sudah
selesai. Ketua kelas keliling mengambil kertas tes dari masing-masing anak lalu
memberikannya kepada bu guru. Bu guru langsung memeriksa kertas kami semua.
Jadi, kami bisa mengetahui nilai kami langsung. Dengan lihainya tangan bu guru,
pemeriksaan selesai dalam waktu tiga menit. “Hihihi” dengan bangganya dia
memperlihatkan nilai sempurnanya kepadaku. Shoyou mendapat nilai 100 dalam tes
itu. Sedangkan aku, lima poin dibawah nilainya. Aku dapat 95 dalam tes ini. Dan
yang lebih bikin kesal lagi, hanya dia satu-satunya orang di kelas ini, yang
mendapat nilai 100. “Iya, iya, aku tau kau dapat nilai sempurna” ujarku kesal
melihat dia yang terus memperlihatkan kertas ujiannya kepadaku.
Tiba-tiba sebuah tangan menjulur ke
arahnya lalu bergantian ke arahku sambil mengucapkan kata selamat. Ternyata
mereka bertiga, yang dari awal tadi tidak pernah serius belajar. “Perkenalkan,
namaku Souka, dan mereka berdua adalah temanku, Kuro dan Suzu” ujarnya
memperkenalkan diri. “Salam kenal” kata Shoyou bingung. “Kamu pasti Shoyou dan
kamu Soujirou kan?” menunjuk kami berdua bergantian. “Iya benar. Kalau boleh
tau ada perlu apa ya Souka?” tanyaku. “Oh, begini. Aku dan teman-temanku ada
masalah” jawabnya memelas. “Masalah? Masalah apa?” tanyaku balik. “Kami merasa
kesulitan untuk memahami apa yang diajarkan guru di depan tadi. Jadi kami mau
membuat kelompok diskusi dengan Shoyou, karena dia dari tadi kami lihat sangat
bagus di dua pelajaran tadi. Kalau bisa, bukan hanya hari ini saja, kami mau
belajar bersama sampai naik kelas nanti itupun kalau Shoyou mau” katanya dengan
sopan.
Aku dan Shoyou saling bertatap muka,
berdiskusi dengan bahasa isyarat. Kalau di terjemahkan dalam bahasa lisan
seperti ini. Shoyou melirik kearahku, alisnya yang sebelah kanan itu bergerak
ke atas sedikit maksudnya bertanya “bagaimana menurutmu?” Aku memajukan sedikit
bibirku maksudnya menjawab “terserahmu saja.” Dia mengerutkan dahinya,
maksudnya bertanya “Kalau begitu kau harus ikut juga.” Aku mengangkat kedua
bahuku dan menggelengkan kepalaku sedikit, maksudnya “Aku tidak mau mengganggu.
Mereka bilang mau belajar bersamamu, jadi kalau ada aku disitu pastinya akan
mengganggu nantinya.” Dia terdiam sebentar lalu mengangguk sedikit, maksudnya
“Baiklah kalau begitu, kau yakin gak mau ikut?” Aku menggeleng lagi sambil
mengangkat jari jempol ku, maksudnya “Iya aku yakin, semoga sukses bro.”
“Ehm..ehm, bagaimana Shoyou? Bisa?” tanyanya sekali lagi.
“Bisa bisa, kapan mau mulai belajar?”
Tanya Shoyou balik. Dua puluh menit sebelum istirahat selesai gimana?”
“Baiklah. Tempatnya di kelas aja ya” “Ok” jawab Souka. Setelah berunding agak
lama, mereka pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. “Kriinngg….kriiingg”
bel tanda istirahat berbunyi. Bu guru pun meninggalkan kelas begitu juga dengan
teman-teman sekelasku yang lain. Sebelum tiga orang itu keluar dari kelas,
sekali lagi mereka memberi bahasa isyarat ke Shoyou mengingatkan waktu belajar
bersama, setelah itu keluar kelas menghilang dari pandangan. “Ayo makan di
tempat biasa” ajakku. “Ayo, jangan lupa membawa rotimu yang di bawah laci”
katanya mengingatkan. Seperti biasanya, aku dan sahabat terbaikku ini
menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah. Di sana kami biasanya
menghabiskan waktu untuk makan siang, mengobrol, tidur dan melakukan kegiatan
lainnya.
Sekolah ku mempunyai 5 lantai. Dan
kelas yang aku pakai sekarang ini, berada di lantai keempat. Kelas yang sangat
strategis, kalau mau ke atap sekolah, tinggal naik satu lantai, dan kalau mau
ke kantin, tinggal turun ke bawah satu lantai. Ruang kepala sekolah dan ruang
guru juga berada di lantai 3. Jadi, kalau ada perlu sesuatu, langsung saja
pergi ke ruang guru, tidak seperti kelas yang di lantai 1 yang harus menghabiskan
banyak tenaga melewati ribuan anak tangga itu. Karena ruang kepala sekolah dan
ruang guru berada di lantai yang sama dengan kelas kami, lantai 3 menjadi
lantai yang paling bagus diantara lantai-lantai lainnya. Di lantai 3, terdapat
banyak hiasan dinding yang megah, dan berkilap-kilap. Dibandingkan dengan kelas
lainnya yang berada di lantai yang lain juga, hanya sedikit dan itupun tidak
semegah yang kita punya. Salah satunya adalah smartboard yang tersebar di
segala penjuru lantai 3 dan pastinya tidak ada di lantai lainnya.
Smartboard ini bisa mengakses
informasi apapun tentang sekolah, kecuali informasi-informasi yang sangat
rahasia, itu sudah pasti. Dan yang lebih mantapnya lagi adalah, smartboard ini
dilengkapi dengan internet yang bisa di akses siapa saja, baik guru maupun
murid. Bentuknya seperti mesin ATM yang kalau kita berdiri di depannya, apa
yang kita akses tidak kelihatan sama orang lain. Ada empat smartboard yang
tersebar di lantai 3, dan keempat-empatnya, tak ada satupun siswa yang menggunakannya
untuk mengakses informasi sekolah, semuanya memakai benda itu untuk membuka sosial
media, menjelajahi internet, dan ada juga yang bermain game online. Kita kembali ke atap. Tidak ada yang istimewa
dari atap sekolah kami, walaupun begitu, suasana di sana nyaman sekali dan
sunyi, jauh dari keramaian.
Saat istirahat makan siang, aku dan
Shoyou menghabiskan semua waktu yang kami punya di atap sekolah. Kalau berada
di sana, pasti membuat kalian tidak mau kembali ke kelas karena rasa nyamannya.
Angin yang berhembus lembut, membuat makan jadi lebih enak dan rasa letih pun
hilang. Hari ini aku membawa bekal makan siang onigiri ditambah dengan nasi
goreng spesial buatan ibu. Sedangkan Shoyou membawa nasi putih di tambah telur
dengan bumbu yang berbentuk hati spesial dari ibunya. “Padahal ibu sudah
kuingatkan untuk tidak menambahkan gambar hati di bekal ku lagi” gumamnya.
“Hei, itu menandakan rasa cinta ibumu kepadamu Shoyou. Bekal buatannya tidak
pantas untuk kau ejek” aku mengingatkannya sambil mengambil satu onigiri. “Untung saja di sini sepi, kalau rame bisa
jadi masalah besar buatku” lanjutnya sambil membubarkan bumbu yang berbentuk
hati itu, menjadi tak berbentuk lagi.
“Terserah kau saja Shoyou, aku sudah
mengingatkan” sambil mengambil satu onigiri lagi. “Bagaimana persiapanmu untuk
mengajari mereka?” lanjutku. “Aku tidak tau” jawabnya memelas. “Tidak tau?
Kenapa?” “Soalnya aku tidak tau bagaimana kelakuan mereka. Jadi aku belum tau
mental seperti apa yang harus aku siapkan untuk mengajari mereka” lanjutnya
lagi sambil mengambil satu onigiri ku. Aku melihatnya dengan ekspresi kesal,
lalu dia tersenyum dan tetap memakan onigiri ku. “Aku punya informasi buatmu.”
“Tentang apa?” “Tentang bagaimana sikap mereka bertiga saat belajar. Saat
pelajaran berlangsung, aku memperhatikan mereka beberapa kali, dan sepertinya
kau harus menyiapkan mental yang sangat kuat.” “Memangnya mereka bagaimana?”
tanyanya antusias sambil memotong telur yang berukuran besar menjadi kecil.
“Tidak satupun dari mereka yang
memperhatikan guru. Dua diantara mereka asik bermain kartu dan satu orangnya
lagi asik bermain dengan handphonenya” jawabku dengan nada serius. “Kalau
begitu bagaimana aku menghadapi mereka nantinya?” jawabnya cemas. “Mungkin
mereka lebih suka belajar dengan yang sepantaran mereka” kataku mengibur sambil
mengambil onigiri terakhirku. Kulihat dari tadi Shoyou memperhatikan onigiri
terakhir itu. Kuputuskan untuk membaginya menjadi dua bagian lalu memberikannya
satu bagian yang lain. “Kita lihat saja nanti” jawabnya. Tak terasa sudah 25
menit sebelum istirahat selesai. Dia segera menghabiskan bekalnya dan langsung
pamit pergi ke kelas. Aku tetap berada di atap, tidur sambil menikmati embusan
angin lembut yang menyejukkan badan. Aku pun terlelap memasuki dunia mimpi.
“Kriiiing…kriiingg…” bel tanda
istirahat sudah selesai berbunyi. Suaranya yang keras itu membangunkanku dari
tidur. Aku langsung bergegas menuju kelas. Saat di kelas, kulihat Shoyou duduk
di kursinya terdiam, seperti ada sesuatu. “Yo, bagaimana mengajarkannya tadi?”
tanyaku mengagetkannya. “Eh, hahaha lancar-lancar saja kok” jawabnya dengan
senyumnya yang terlihat agak dipaksakan itu. “ Yakin?” lanjutku. “Iya, tenang
saja, semuanya berjalan dengan lancar kok tadi dan taka da hal yang perlu di
perhatikan. Sekali lagi dia memperlihatkan ekpresi yang tidak seharusnya dia
tunjukkan sekarang. Tersenyum tapi bukan tersenyum, begitulah yang dia tunjukkan
kepadaku. Ditambah lagi, dia mengatakannya tidak sambil melihat kearahku. Aku
yakin ada sesuatu yang aneh yang membuatnya seperti ini. Entah apa yang sudah
mereka bertiga lakukan, aku tidak tahu. Aku memutuskan untuk tidak bertanya
lagi dan mengganti topik pembicaraan.
“Habis ini kita belajar apa?”
tanyaku. “Fisika” jawabnya pelan. “Ok” jawabku. Aku membiarkannya, tak bertanya
lagi. Mungkin dia sedang ingin sendiri. Guru pun datang, dan pelajaran pun
dimulai. Aku meliriknya sekali lagi, dia tidak seperti seseorang yang kulihat
tadi pagi. “Pasti ada sesuatu” kataku dalam hati.
“Bersambung…..”
“Ikuti terus ya ceritanya……..” J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar