“Hati
Beku”
“Himada, bangun! Himada...
Hi-ma-da!” seseorang memanggil namaku. Terdengar seperti suara perempuan.
Tunggu dulu, inikan suaranya bu Kirishima. Tapi ada apa? Kenapa dia memanggilku
dengan keras? Padahal jarak kita berdua sangatlah dekat. Aku heran, ada apa
sebenarnya? “Himada, bangun!” dia berteriak begitu kerasnya. Kulihat, ada suatu
benda yang berbentuk persegi panjang di tangan kanannya. “Plak”, “aduh”,
seseorang memukul pundakku. Semakin lama semakin keras saja rasanya. Apa ini?
Tiba dipukulan kelima, pukulan itu sangat keras hingga membuatku tersentak.
“Arrrgghh.... ada apa ini? Kenapa ibu memukul saya?
“Hi-ma-da”(dengan suara tinggi, dan
tatapannya yg tajam kearahku). “Kau pasti sangat menikmati mimpimu kan? Beraninya
kau tidur saat di kelasku”. “Sial, ternyata aku ketiduran”(kataku dalam hati).
Semua mata mengarah padaku, seakan-akan aku ini adalah seorang kriminal.
Biasanya orang akan bersikap malu pada saat seperti ini, tapi itu tak berlaku
buatku. “Sekarang, pergi ke WC dan basuh mukamu!” “tapi bu...”. “kenapa? Kau
malas? Aku sudah bosan mendengar kata-kata itu, dasar pemalas.” Tatapan
orang-orang semakin tajam. Ku bersihkan lelehan mimpi yang mengalir bak sungai
diatas meja kayu itu, dan membersihkan salju kering yang menempel pada bagian
bawah bibirku.
“Cih. Tidak adakah tempat bebas
untukku di dunia ini?”(keluhku dalam hati). Dengan berat hati, aku beranjak
dari kursi dan berjalan keluar kelas dalam keadaan setengah hidup. WC nya
dimana ya? Hmmm... oh, disana.
*****
“Hah...hah...hah”(tergesa-gesa).
“Masih ada 10 menit. Aku masih sempat menyerahkan laporan ini. Kalau tidak,
bisa gawat. Tapi, kelasnya Yamada-senpai dimana ya? Aduh, bagaimana ini? Aku
tidak tahu kelasnya dimana. Tunggu dulu, “Hikari, kalau laporannya sudah
selesai berikan padaku besok, paling lambat jam 9.30 di kelas 2-B. Jangan lupa
ya!” “Hah, itu dia, kelas 2-B. Kelasnya berada di lantai 2 gedung sekolah. Oh
tidak. Tinggal 5 menit lagi, kalau terlambat bisa-bisa aku dimarahi oleh
Yamada-senpai, mengingat kalau dia itu adalah orang yang sangat disiplin akan
waktu. Oke, kekuatan...penuh.....” dengan cepatnya Hikari berlari untuk
mempersingkat waktu. “Habis ini belok kiri, setelah itu lurus, tangga nya ada
disitu. Oke, ini belokan pertama belok ke ki.......” “Gedubrak!!!” suara dua
kepala yang beradu. Tabrakan itu cukup keras, yang membuat mereka berdua
tebaring di lantai, dan merasakan sakit yang luar biasa.
“Adu...du..du...duh..., kepalaku sakit sekali.
Kalau begini, aku tidak bisa berlari dan terlambat memberikan laporannya. Tapi,
ya sudahlah. Kalau kuceritakan hal ini, dia pati mengerti nantinya(ucapnya
dalam hati). Hei, kau tidak apa-a....... Arrrggghh....” Teriakan kerasnya itu
menyelimuti koridor lantai 3, melihat lawan tabraknya terbaring di lantai
seperti batu, diam bagaikan mayat. Tak ada satupun gerakan yang ditunjukkan
oleh lawan tabraknya. Padahal teriakannya tadi bisa membuat satu desa terbangun
dari tidurnya karena saking kerasnya.
Hikari tersentak, tidak percaya akan apa yang telah
terjadi. Didalam kepalanya terus terpikir, bagaiman jika lawan tabraknya itu
meninggal karena insiden ini. Dia sudah membayangkan semuanya. Orang tua korban
pasti tidak akan terima dan menjebloskan dirinya kedalam penjara. Walaupun
kejadian ini adalah ketidak sengajaan. Dia bisa menjelaskannya kepada hakim
jika dia tidak sengaja menabrak korban. Tapi disini tidak ada saksi mata.
Kejadian ini terjadi ketika jam pelajaran berlangsung dan tak ada satupun orang
diluar kelas selain mereka berdua.
Dia terus memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan
diselimuti ketakukan yang luar biasa hebatnya. “Ti..ti..tidak mungkin.
Bagaimana ini? Ini pasti Cuma mimpikan?” Ekspressi yang mengerikan itu terlukis
diwajahnya. Sekarang sudah jam 9.50 pertanda kalau sebentar lagi istirahat
pergantian jam pelajaran. Hal itu menambah ketakukan Hikari. Jika semua orang
melihat ini, habislah masa indah SMA nya. Karena tak ingin mendapat masalah,
perlahan dia mendekati lawan tabraknya, dan berharap kalau dugaannya salah.
Dengan gugup ia coba apakah laki-laki itu masih bernafas atau tidak. Terasa
hembusan angin keluar dari lubang hidungnya. “Hah, untunglah ternyata dugaanku
tidak benar. Bodohnya aku ini” sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Tiba-tiba terdengar suara aneh. “ Suara apa itu?.”
“Hrrroaaahh, hyuuuhh, hrrroahhh, hyuuuh.” “Suara ini kan, suara dengkuran.
Jangan jangan dia....” Hikari langsung mendekati sumber dari suara aneh
tersebut. “Astaga, rupanya dia tertidur!!! Bisa-bisanya dia tertidur disaat aku
memikirkan dirinya yang seperti mayat itu.” Badan yang tadinya terbaring diam,
perlahan-lahan bangun diakibatkan teriakannya yang keras tadi. “Hoaahhh... Ada
apa ini? Kenapa kepalaku pusing sekali? Dan kenapa aku berada di koridor
bukannya dikelas?
Sepasang mata dengan tatapan dingin itu melihat kearah
Hikari. Hikari menarik nafas dan mencoba menghilangkan kekesalannya tadi. “Kita
berdua tadi tidak sengaja bertabrakan, lalu jatuh ke lantai. Saat aku bangun,
aku melihatmu terbaring di lantai tidak bergerak. Kukira kau sudah mati,
ternyata kau tertidur, membuat orang ketakutan saja” sambil menyusun kembali
lembar laporannya yang bertaburan di lantai. “Maaf ya, karena sudah membuatmu
takut.” Lelaki itu bangun dari duduknya dan membantu Hikari menyusun laporannya.
“Ini lembaran yang terakhir.” Laki-laki itu memberikannya
dengan dingin dan tak berekspresi. “Terima kasih atas bantuannya.” “Ya,
sama-sama”, lagi-lagi dia menjawab dengan dingin dan wajah datar. “Ini orang
atau robot sih?”(gumamnya dalam hati). Hikari menjulurkan tangannya dan
memperkenalkan diri. “Perkenalkan, namaku Hanamiya Hikari, kamu?”. Lelaki itu
tidak membalas uluran tangannya. Dengan cepat ia menarik tangannya kembali
dengan sedikit kesal. “Himada, Himada Soujirou. Itu namaku.” “Himada, Hi-ma-da,
Himada.” “Jangan diulang-ulang. Apa namaku sebegitu sulitnya dihafal?” “Hahaha”
Hikari tertawa.
“Kau ini lucu juga ya. Aku mengulang-ulang namamu karena
namamu itu bagus dan enak didengar.” “O...oh... begitu rupanya.” “Oh tidak,
sudah jam 10.57, Yamada-senpai pasti sudah lama menungguku. Kalau begitu
Himada-kun, aku pergi dulu ya! Sampai jumpa.” “Hmmm, sampai jumpa.” Gadis itu
pun pergi, perlahan menghilang dari pandangannya.
****
“Hah, akhirnya cewek itu pergi juga”(kataku dalam
hati).”Ahh, kepalaku pusing sekali rasanya. Andai saja tadi dia tidak berlari,
tidak mungkin kita akan bertabrakan tadinya. Sekarang sudah jam 9.59, dan aku
sudah menghabiskan waktu selama 29 menit hanya untuk membasuh mukaku yang kusut
ini. Tidak terbayang olehku bagaimana amarah bu Kirishima nanti. Semoga saja
ada keajaiban dari langit yang turun untukku. Hmm, semoga saja(gumamku dalam
hati). “Kriiing...kriiing...” bel pertanda jam sudah selesai berbunyi. “Aku
harus cepat.” Setelah mencuci muka lalu kembali ke kelas. Siswa disebelahku
bilang kalau aku di panggil bu Kirishima, dan disuruh menghadapnya di ruang
guru.
“Aa..aa..adududuh ampun bu, ampun” “tidak ada kata ampun
buatmu. Sudah berani ya bolos dari pelajaran ibu” “maaf bu maaf, tadi itu ada-“
“ada apa ha? Tidak ada alasan-alasan” bentaknya. “Ini serius bu, dengarin dulu
makanya” rintihku. Diapun segera melepaskan tangan super kuatnya itu yang
memelintir telingaku tadi. “Jadi apa alasanmu?” tanyanya. Aku menjelaskan semua
yang kualami tadi dari awal hingga akhir. Dia tertawa dengan keras sambil
menepuk pundakku lalu duduk di kursinya. “Hahaha, ada-ada saja kau ini Himada.
Apa kau tau, siapa yang baru saja kau tabrak tadi?” tanyanya padaku. “Tidak
tau? Emang tadi itu siapa?” tanyaku balik. “Kau baru saja bertemu dengan salah
satu perempuan terfavorit disekolah. “Oh” jawabku tak peduli. “Kau tidak terkejut?” lanjutnya.
“Itu tidak terlalu penting buatku.” Dia pun tertawa mendengar jawabanku
barusan.
Tapi
Himada, jika kau begini terus, bagaimana nantinya kau dimasa depan? Kau ini adalah
seorang laki-laki. Kedepannya kau akan berkeluarga, menjadi pemimpin bagi
keluargamu, dan disitu kau dituntut untuk berusaha keras untuk mencukupi
kehidupanmu dan keluargamu. Lihatlah dirimu yang sekarang ini. Bermalas-malasan
terus dan tak mau bersosialisasi. Mau jadi apa nantinya kalau begini terus?”
Mendengar perkataannya membuatku kesal. Ini adalah hidupku, kenapa dia selalu
saja ikut campur? Kenapa semua orang selalu saja ikut campur dalam kehidupanku?
Aku hanya ingin hidup tenang dan damai tanpa adanya konflik kehidupan. Aku
hanya ingin hidup bebas dengan jalan hidupku sendiri tanpa campur tangan orang
lain.
Mungkin kalian pikir aku ini egois, tapi
inilah aku. Aku hanya ingin menghindari kejadian pahit yang pernah aku alami
dulu saat aku mempunyai sesuatu yang namanya teman. Tahukah kau bagaimana
rasanya jika kekuranganmu dijelek-jelekkan oleh orang lain? Di mulut bisa saja
kita tidak berkata apa-apa, tapi bagaimana di hati? Semua itu hanya membuatku
menjadi orang yang munafik,(kesalku dalam hati). “Himada…(plak)” Bu Kirishima
memegang pundakku, membuatku tersadar dari lamunan emosi. “Maafkan ibu, ibu
tidak bermaksud untuk memaksamu, ibu hanya ingin memberimu nasihat. Karena ibu
saying sama kamu Himada. Memang, setiap manusia mempunyai jalan hidup mereka
masing-masing. Tapi coba kau pikirkan sendiri, dengan jalan hidupmu yang
seperti ini, akan jadi apa kau nantinya? Itu PR mu hari ini, kau mengerti?”
sambil menyentil jidatku dan menyadarkanku lagi dari lamunanku.
”Y..ya
bu, aku mengerti.” “Bagus kalau begitu, ini.” Selembar kertas berwarna putih
diberikannya kepadaku. “Apa ini?” “Itu adalah kertas pemilihan klub. Setiap
siswa wajib untuk mengikuti minimal satu klub. Ingat, itu wajib. Wajiiiiiiib.”
“Iya, iya, aku mengerti. Ibu tidak perlu mengulanginya dua kali. Hah, baiklah,
aku akan mengikuti satu klub saja.” “Baguslah jika kau mengerti, biasanya kau
akan langsung menolak jika disuruh untuk mengikuti kegiatan yang berbau
sosial.” “Kriiiinggg…..kriiiinggg….” bel pertanda istirahat sudah selesai berbunyi.
“Oke, sampai disitu saja. Ibu ada jam mengajar di kelas 1-A. jangan salah pilih
klub, pilihlah klub yang cocok untuk untukmu. Percayalah, ikut klub itu
menyenangkan. Dadaaaaahh…”
Ya,
itulah yang dia katakana. Aku pun kembali ke kelas. Mumpung guru belum masuk,
aku membaca kertas itu dan melihat daftar klub yang ada di sekolah. Mataku
tertuju pada satu klub yang aku kira sangat cocok untukku. Saat pulang sekolah,
aku kembali ke ruang guru dan memberikan kertasnya ke bu Kirishima. “Kau serius
ingin masuk klub ini Himada?” “Ya bu, saya sangat serius.” “Kalau begitu, apa
boleh buat. Terima kasih ya!” “Hmm” (aku mengangguk). Setelah memberikan surat
itu, aku pamit kepada bu guru dan langsung pulang ke rumah.
“Heh,
dasar anak itu. Mudah-mudahan dia tidak mengada-ngada memilih klub ini.”
“Bersambung………..”
Selanjutnya…. “Aku, Shoyou, dan Klub…..”
IKUTI TERUS YA
CERITANYA!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar